top of page
  • Gambar penulisSimon Salim, Valerie Hirsy

Sindrom Wolff Parkinson White

Diperbarui: 22 Agu 2020

Pendahuluan

Sindrom Wolff Parkinson White (WPW) merupakan gangguan sistem konduksi jantung. Pada penderita sindrom WPW, terdapat jalur listrik tambahan antara ruangan atrium dan ventrikel jantung sehingga menghasilkan gangguan irama jantung yang menyebabkan jantung berdenyut lebih cepat. Jalur listrik tambahan tersebut muncul sejak lahir (kongenital). Sindrom ini termasuk salah satu jenis takikardi supraventrikular tipe AVRT.



Gambar 1. Perbandingan jalur listrik normal dan sindrom Wolff Parkinson White

(Gambar diambil dari https://en.wikipedia.org/wiki/Wolff–Parkinson–White_syndrome)

Gejala

Kebanyakan pasien tidak merasakan adanya gejala sehingga kondisi ini seringkali tidak terdeteksi atau baru terdeteksi tanpa sengaja saat melakukan pemeriksaan jantung. Gejala dapat timbul pertama kali pada semua rentang usia, dari bayi hingga dewasa, namun paling sering mulai muncul di usia remaja atau dewasa muda. Gejala yang paling sering dan paling menonjol pada kondisi ini adalah palpitasi atau sensasi berdebar-debar. Hal ini disebabkan oleh jantung yang berdenyut terlalu cepat. Gejala-gejala lain yang dapat dialami pasien adalah :

· Lemas atau mudah lelah

· Sesak napas

· Nyeri dada atau rasa tidak nyaman pada dada

· Pingsan atau sensasi melayang

· Pusing

Gejala- gejala tersebut dapat timbul karena berkurangnya efektivitas pompa jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga beberapa organ kekurangan aliran darah yang kaya akan oksigen.

Gejala sindrom WPW pada bayi sedikit berbeda karena pada bayi gejala-gejala di atas sulit untuk ditemukan. Curigai bahwa bayi Anda menderita sindrom WPW apabila terdapat gejala seperti nafas cepat, rewel atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama, pucat, sulit makan dan minum, dan adanya demam yang hilang timbul. Jika Anda atau orang yang Anda kenal mengalami gejala-gejala seperti diatas, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter.

Apa yang menyebabkan munculnya kondisi ini?

Sindrom WPW ini merupakan penyakit jantung bawaan. Pada sebagian besar kasus, penyebabnya tidak diketahui, namun pada sebagian kecil lainnya, kondisi ini disebabkan oleh adanya mutasi genetik saat masa perkembangan janin yang menyebabkan timbulnya kelainan pada jaringan otot jantung, sehingga dapat menghasilkan jalur listrik tambahan yang menganggu irama jantung normal.

Bagaimana mendeteksi kondisi ini?

Diagnosis sindrom WPW ditegakkan berdasarkan pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan tertentu. Pemeriksaan tambahan yang akan diminta oleh dokter Anda adalah elektrokardiogram (EKG), yaitu perekaman aktivitas listrik jantung menggunakan sensor yang ditempelkan ke beberapa bagian tubuh. Apabila Anda menderita sindrom WPW, alat EKG akan menunjukan pola aliran listrik jantung yang tidak normal yang dapat dilihat oleh dokter Anda. Namun apabila pemeriksaan dilakukan saat tidak terjadi serangan, maka hasilnya dapat normal. Selain EKG, beberapa pemeriksaan lain yang mungkin akan disarankan untuk dilakukan adalah :

  • EKG portabel (Monitor holter) : EKG portabel ini biasanya digunakan selama 24 jam untuk merekam aktivitas listrik jantung secara terus menerus. Hasil monitor tersebut kemudian akan dibaca oleh dokter Anda untuk melihat apakah ada pola aliran listrik jantung yang tidak normal.

  • Studi Elektrofisiologi : Tindakan pemetaan aliran listrik jantung menggunakan sebuah selang kecil (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah ke jantung untuk melihat secara spesifik jalur tambahan yang menyebabkan gangguan irama jantung. Tindakan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan ablasi jantung.

Apakah sindrom ini berbahaya?

Sindrom WPW biasanya jarang menyebabkan komplikasi yang berbahaya. Pada sebagian besar kasus, takikardi yang dialami penderita datang hanya sesekali dan hilang dengan sendirinya. Jika Anda menderita sindrom WPW, maka Anda dapat mengalami pingsan berulang karena kurangnya aliran darah ke otak akibat jantung yang tidak dapat memompa darah dengan baik. Namun hal ini juga dapat menimbulkan bahaya apabila pingsan terjadi saat Anda sedang menyetir atau berada di tempat yang tinggi.


Apabila jantung tidak dapat memompa darah dengan baik, maka aliran darah akan turun dan berbagai organ dalam tubuh akan kekurangan asupan oksigen yang dibawa oleh darah. Jika kondisi ini berlanjut hingga jantung tidak dapat memenuhi kebutuhan darah tubuh, maka akan terjadi gagal jantung.


Penderita sindrom WPW harus waspada terhadap risiko mengalami henti jantung mendadak. Henti jantung mendadak terjadi pada 1 dari 100 kasus pasien dengan sindrom WPW yang bergejala (simtomatik). Meskipun begitu, risiko henti jantung mendadak juga meningkat pada penderita yang tidak mengalami gejala sama sekali (asimtomatik). Angka kematian akibat hal tersebut berkisar antara 0-0,39% per tahun. Karena itu, apabila Anda memiliki sindrom WPW, baik bergejala maupun tidak, maka akan lebih baik jika Anda mencari pengobatan secara maksimal.

Tatalaksana

Pada sebagian besar kasus, gangguan irama jantung dari sindrom WPW ini tidak berlangsung lama, tidak berbahaya, dan dapat sembuh sendiri sehingga hanya memerlukan observasi. Jika memang dibutuhkan pengobatan, maka dilakukan berdasarkan frekuensi dan berat ringannya gejala. Sama seperti SVT pada umumnya, terdapat dua jenis pengobatan untuk WPW, yaitu terapi untuk menghentikan serangan dan terapi jangka panjang.


a) Terapi serangan : Tujuan dari terapi ini adalah menghentikan serangan yang sedang terjadi sehingga irama dan laju jantung kembali normal atau mendekati normal dengan segera.


  • Manuver vagal

Pelaksanaan maneuver vagal perlu dilakukan dibawah pengawasan tenaga kesehatan karena perlu dilakukan dengan teknik benar dan hati-hati. Beberapa tindakan yang termasuk manuver vagal adalah pemijatan arteri karotis, mengejan, merendam wajah di air dingin, dan batuk. Manuver ini memiliki tingkat kesuksesan sekitar 6%-54%. Biasanya manuver ini lah yang pertama kali dilakukan atau diinstruksikan oleh tenaga kesehatan terhadap pasien yang tengah mengalami serangan SVT.

  • Kardioversi elektrik

Merupakan suata tindakan pemberian kejut listrik kepada jantung, dengan harapan mengembalikan irama jantung yang normal. Tindakan ini cukup aman, namun bisa terjadi pelepasan bekuan darah yang sempat terbentuk sebelumnya di atrium dan terjadi tromboemboli. Risiko ini sangat kecil, dan lebih diperkecil dengan pemberian antikoagulan sebelum/sesudah tindakan, serta evaluasi tambahan menggunakan echocardiography(USG jantung) transesofageal (melalui kerongkongan) mungkin diperlukan.

  • Kardioversi farmakologis

Kardioversi farmakologik merupakan modalitas pengobatan yang berusaha mengendalikan irama jantung agar kembali menjadi normal melalui obat-obatan. Obat-obatan tersebut dapat diberikan melalui infus dan kemudian dilanjutkan dalam jangka waktu yang lama untuk mempertahankan irama normal. Modalitas ini dapat dikombinasikan dengan kardioversi elektrik untuk meningkatkan keberhasilan kontrol irama jantung. Obat-obatan ini dikenal sebagai “anti-aritmia”.

b) Terapi Jangka Panjang : Terapi ini dilakukan jika serangan terjadi secara berulang atau berkepanjangan dan bergantung pada frekuensi dan berat ringannya serangan, serta dampaknya pada kualitas hidup pasien. Tindakan penanganan yang dapat dilakukan dokter antara lain :

  • Ablasi kateter jantung

Ablasi merupakan tindakan merusak sebagian jaringan jantung yang menjadi penyebab gangguan irama jantung. Tindakan ini merupakan terapi pilihan utama untuk sindrom WPW dengan tingkat keberhasilan jangka panjang >90%. Untuk lebih lengkapnya lihat disini.


  • Pemberian obat penurun laju nadi

Biasanya pada pasien yang menolak atau tidak memenuhi syarat untuk ablasi. Pemberian obat-obatan ini dimaksudkan agar jantung berdenyut dengan laju yang normal sehingga mengembalikan efisiensi pompa jantung. Dengan begitu, diharapkan jantung dapat memenuhi kebutuhkan aliran darah tubuh. Obat-obatan ini diberikan, baik pada mereka yang belum dilakukan kardioversi, maupun sesudahnya. Obat-obatan ini juga sering diberikan pada pasien-pasien tertentu paska dilakukan ablasi.


  • Operasi jantung terbuka

Apabila setelah dilakukan ablasi berulang gangguan irama tetap muncul, maka dipertimbangkan melakukan operasi jantung terbuka, baik untuk ablasi maupun bypass. Namun, tindakan ini memiliki risiko komplikasi yang tinggi seperti perdarahan hebat, infeksi luka operasi, henti jantung, gagal ginjal, stroke, hingga kematian. Karena itu pilihan terapi ini jarang digunakan, atau dilakukan saat pasien memang akan melakukan operasi jantung karena alasan lain sehingga dilakukan bersamaan.



REFERENSI


  1. Wolff-Parkinson-White Syndrome [Internet]. Medscape. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/159222-overview

  2. Wolff-Parkinson-White (WPW) syndrome [Internet]. Mayo Clinic. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/wolff-parkinson-white-syndrome/symptoms-causes/syc-20354626

  3. Wolff-Parkinson-White syndrome [Internet]. Genetic Home Reference. Available from: https://ghr.nlm.nih.gov/condition/wolff-parkinson-white-syndrome#sourcesforpage

  4. Wolff Parkinson White Syndrome [Internet]. National Organization for Rare Disorders. Available from: https://rarediseases.org/rare-diseases/wolff-parkinson-white-syndrome/

  5. Wolff-Parkinson-White syndrome (WPW) [Internet]. Medline Plus. Available from: https://medlineplus.gov/ency/article/000151.htm

  6. Ellis CR. What is the success rate for RF ablation in the treatment of Wolff-Parkinson-White (WPW) syndrome? [Internet]. Medscape. Available from: https://www.medscape.com/answers/159222-54164/what-is-the-success-rate-for-rf-ablation-in-the-treatment-of-wolff-parkinson-white-wpw-syndrome


398 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page