top of page
  • Gambar penulisSimon Salim, Valerie Hirsy

Defibrilator Kardioverter Implan




Pendahuluan

Defibrilator kardioverter implan (DKI) adalah sebuah alat yang dapat ditempatkan di dada pasien untuk mengatasi kegawatan yang terjadi akibat gangguan irama jantung yang berbahaya, terutama yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Alat ini secara terus menerus mendeteksi irama jantung Anda dan memberikan kejut listrik untuk mengembalikan irama jantung ke normal apabila diperlukan. Defibrilator kardioverter implan berbeda dengan alat pacu jantung, meskipun sekarang sudah banyak tipe DKI yang dapat sekaligus berfungsi sebagai pacu jantung.


Cara Kerja

Pada prinsipnya, DKI bekerja dengan mendeteksi irama jantung yang tidak normal, dan berusaha mengembalikannya ke normal dengan segera. DKI akan memonitor dan merekam aktivitas dan irama jantung selama 24 jam secara terus menerus (fungsi sensing). Apabila DKI mendeteksi suatu irama jantung yang berbahaya atau henti jantung mendadak, maka DKI alat tersebut akan menghantarkan kejut listrik untuk mengembalikan irama jantung normal (fungsi defibrilasi). Rekaman aktivitas jantung juga dapat digunakan dokter untuk mengevaluasi masalah irama jantung Anda Untuk menjalankan fungsinya tersebut, DKI terbuat dari beberapa bagian, yaitu :

  • Generator : Kontainer logam kecil berisi baterai dan sirkuit listrik yang memproduksi dan mengatur aliran listrik yang akan dikirim ke jantung,

  • Kabel dengan Elektroda-sensing: Elektroda yang mendeteksi irama jantung dan menghantarkan informasi tersebut ke generator

  • Kabel dengan Elektroda-defibrilator : Elektroda ini menyambungkan generator dengan jantung dan memiliki kemampuan memberikan kejutan listrik pada jantung dengan irama yang berbahaya untuk mengembalikan irama jantung ke normal.

Siapa saja yang memerlukan DKI?

Dokter Anda mungkin akan menyarankan pemasangan alat DKI jika Anda berisiko mengalami gangguan irama ventrikel yang dapat menyebabkan henti jantung. Kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan risiko tersebut adalah :

  • Riwayat gangguan irama ventrikel sebelumnya

  • Riwayat henti jantung mendadak

  • Penyakit jantung koroner dengan riwayat serangan jantung sebelumnya

  • Kondisi bawaan seperti sindrom brugada atau sindrom QT memanjang

  • Kelainan otot jantung (kardiomiopati)

  • Gagal jantung

  • Penyakit jantung bawaan

Prosedur


A) Persiapan

Setiap fasilitas kesehatan dapat memiliki tahap persiapan yang berbeda-beda. Yang dapat Anda alami selama masa persiapan adalah :

  • Anda dapat diminta untuk menghentikan konsumsi obat-obatan tertentu

  • Beberapa tindakan pemeriksaan, seperti cek darah, ekokardiografi, dan foto dada mungkin diperlukan

  • Anda akan diminta mencuci bagian tubuh dibawah leher dengan sabun khusus

  • Anda akan diminta puasa minimal 6-8 jam sebelum tindakan

B) Pemasangan DKI akan dilakukan oleh seorang dokter ahli di bagian elektrofisiologi beserta sebuah tim perawat dan teknisi yang telah terlatih dalam melakukan prosedur tersebut. Prosedur ini akan dilakukan di ruang khusus (cath lab) dan memakan waktu sekitar 2-4 jam.

  • Biasanya, Anda akan terjaga selama tindakan pemasangan DKI berlangsung, kecuali dokter merasa perlu membuat Anda tertidur.

  • Pemasangan infus untuk memasukkan obat-obatan dan cairan

  • Bagian dada Anda akan dibersihkan dan diberi suntikan bius lokal.Pada saat ini Anda mungkin akan merasakan sedikit sensasi nyeri karena tusukan jarum suntik.

  • Satu atau lebih kabel khusus (kateter) dengan elektroda dimasukkan ke jantung melalui sayatan di pembuluh darah bagian dada atas (biasanya di sisi yang berlawanan dari sisi dominan Anda). Saat kateter dimasukkan, biasanya pasien tidak merasakan sensasi apapun. Dokter dapat menggunakan x-ray(fluoroskop) untuk menuntun penempatan ujung kateter di jantung.

  • Dokter akan membuat sayatan kecil di dada untuk memasukkan generator dan memasangnya di bawah kulit tepat dibawah tulang selangka.

  • Setelah generator dipasang, maka dokter akan menghubungkan kateter yang telah dipasang ke jantung tadi dengan generator.

  • Dokter akan memantau fungsi DKI dengan memicu irama jantung yang cepat dan tidak teratur, lalu menggunakan DKI untuk menghantarkan kejut listrik untuk menghentikan irama yang tidak teratur tersebut.

  • Setelah DKI dipastikan dapat berfungsi dengan baik, dokter akan menjahit sayatan di kulit, dan menutupnya dengan perban.

  • Rontgen dada dilakukan setelah prosedur untuk memastikan elektroda berada di posisi yang tepat tidak terjadi perlukaan pada paru-paru selama prosedur.

  • Prosedur pemasangan DKI ini dapat memakan waktu 30-90 menit atau lebih, tergantung dari situasi dan kondisi yang terjadi saat prosedur pemasangan.

B) Setelah Tindakan

  • Bekas tusukan akan dipantau untuk melihat tanda-tanda perdarahan. Biasanya anda perlu berbaring selama beberapa jam agar risiko perdarahan berkurang.

  • Anda dapat dipulangkan setelah masa observasi selesai atau pada keesokan harinya apabila tidak timbul masalah atau komplikasi

  • Rasa tidak nyaman pada bekas tusukan dapat masih terasa hingga 1-2 minggu, meskipun sudah dapat beraktivitas seperti biasa. Kebanyakan orang sudah dapat beraktivitas sehari-hari dengan normal beberapa hari setelah operasi.

  • Hindari aktivitas yang terlalu berat atau mengangkat beban berat selama sekitar 1 bulan.

Komplikasi Prosedur

Komplikasi dari operasi pemasangan alat defibrillator kardioverter implant jarang terjadi, namun tetap perlu diwaspadai. Komplikasi dapat terjadi segera setelah pemasangan akibat tindakan operasi atau dalam jangka panjang (lebih dari 90 hari). Beberapa komplikasi awal yang paling umum dilaporkan adalah pergeseran elektroda, perdarahan, infeksi dan kolaps paru, masing-masing terjadi pada sekitar 1% dari pasien yang menjalani pemasangan DKI. Infeksi luas yang mencapai generator dan elektroda membutuhkan pelepasan DKI secara keseluruhan dan menggantinya dengan DKI yang baru. Terkadang, tubuh pasien dapat mengeluarkan reaksi alergi akibat obat bius atau kontras yang digunakan saat proses pemasangan alat DKI. Karena itu biasanya sebelum tindakan dilakukan, pasien akan ditanya atau di tes reaksi alergi terhadap obat bius atau kontras tersebut.

Komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi adalah gangguan fungsi generator dan elektroda, yang risikonya semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu pemakaian. Hal ini dapat menyebabkan DKI menghantarkan kejut listrik pada waktu yang tidak seharusnya sehingga pasien bisa merasakan gejala-gejala seperti berdebar-debar, pusing, hingga pingsan. Apabila hal ini terjadi, maka perlu dilakukan penggantian DKI dengan yang baru. Baterai litium pada generator sendiri dapat habis dalam jangka waktu sekitar 5 hingga 7 tahun, sehingga anda perlu melakukan kontrol rutin untuk pemeriksaan DKI setiap 6 bulan.

Hidup dengan defibrillator kardioverter implan

Jika Anda menggunakan alat defibrilasi kardioverter implan, dokter Anda akan menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Pastikan Anda memahami instruksi dari dokter.

Berikan waktu sekitar 8 minggu untuk DKI beradaptasi dan tertanam dengan sempurna di tubuh. Selama periode ini, hindari gerakan lengan yang mendadak dan berlebihan, seperti mengangkat beban berat atau mengangkat lengan hingga atas kepala (pada sisi pemasangan). Hindari juga penekanan pada lokasi pemasangan DKI.

Jika anda menggunakan alat defibrilasi kardioverter implan, maka Anda harus mengunjungi dokter secara rutin (direkomendasikan setiap 3-6 bulan sekali) selama pemakaian. Hal ini ditujukan untuk mengetahui kondisi dan performa DKI, serta menentukan waktu penggantian baterai generator sebelum baterai habis. Jika pasien merasakan adanya kejut listrik dari DKI, artinya jantung pasien sempat memiliki irama yang berbahaya yang membutukan kejutan listrik sehingga pasien harus segera mengunjungi dokter tanpa menunggu jadwal kontrol.

Beberapa saat setelah operasi pemasangan, Anda sudah dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Namun, hindari menyetir kendaraan paling tidak 1 minggu setelah pemasangan DKI, karena aritmia dan kejut jantung dari DKI dapat menyebabkan pingsan. Direkomendasikan untuk menghindari menyetir kendaraan sendiri 6 bulan setelah mengalami kejut jantung dari DKI, meskipun beberapa ahli menyatakan bahwa pasien dapat menyetir kembali dalam 3 bulan setelah episode kejut jantung apabila tidak pernah mengalami pingsan saat kejut jantung terjadi. Namun, setiap orang memiliki kondisi dan kapasitas jantung yang berbeda sehingga Anda tetap harus mendiskusikan dengan dokter Anda mengenai hal ini. Anda dapat mandi, berendam, maupun berenang dengan leluasa karena alat ini tidak terpengaruh air. Anda dapat berpergian dengan bebas menggunakan alat transportasi seperti pesawat, kereta, maupun kapal, kecuali tidak diizinkan akibat penyakit lain yang Anda miliki.

Hindari berdekatan dengan magnet atau berada di medan listrik yang kuat karena hal tersebut dapat mengganggu kerja alat DKI (Electromagnetic Interference/EMI). Bawalah selalu kartu tanda pengguna DKI agar orang atau petugas tertentu mengetahui bahwa Anda menggunakan DKI dan menghindari penggunaan alat magnet disekitar Anda.


105 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page